Artikel Tentang Keabadian - Jampang Media

Breaking

Minggu, 09 Agustus 2015

Artikel Tentang Keabadian

Keabadian Keabadian atau kekekalan secara harfiah ialah sebuah satuan waktu yang tidak ada batasnya, atau waktu yang yang tidak berhingga, seperti yang diungkapkan dalam ungkapan perdamaian yang abadi, atau istirahat yang abadi. Dalam pengertian falsafi dan agama yang dimaksudkan adalah sebuah realita transendental yang tidak sama dengan realita yang biasa. Bila kata keabadian diterapkan kepada sifat Illahi, maka tidaklah cukup hanya pengertiannya sebagai perpanjangan waktu sehingga berlangsung tanpa akhir. Keabadian Ilahi adalah suatu keberadaan yang tanpa awal dan tanpa akhir, serta tak mengandung perubahan maupun urutan dalam waktu. Keabadian ilahi berada di luar dimensi waktu. Pengertian keabadian ilahi ini sukar dipahami oleh manusia sepenuhnya, karena manusia sendiri berada dalam dimensi waktu, dan apa yang ditangkap oleh manusia mengenai keabadian hanyalah secara analog. Keabadian sebagai sebuah eksistensi tanpa waktu Augustinus dari Hippo menuliskan bahwa waktu ada hanya dalam alam semesta yang diciptakan, bahwa Tuhan ada di luar waktu; bagi Tuhan tidak ada masa lampau atau masa depan, tetapi hanya masa kini yang abadi. Posisi itu disetujui oleh banyak orang yang percaya. Dan orang pun tidak perlu percaya pada Tuhan untuk mendukung konsep kekekalan ini: seorang matematikus ateis bisa saja mendukung prinsip filosofis bahwa angka dan hubungan di antara mereka ada di luar waktu, dan oleh sebab itu bisa diartikan sebagai keabadian. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Keabadian Jika berbicara tentang “abadi“, maka yang terlintas dalam benak kita adalah sesuatu yang kekal. Sekarang kita renungkan kembali, apakah dalam kehidupan ini ada sesuatu yang abadi.? Apakah di dalam dunia ini ada sesuatu yang kekal abadi? Satu-satunya kata yang bisa menjawab adalah “Tidak”. tentu Dalam dunia ini tak ada yang abadi. Dalam dunia ini tak ada sesuatu yang bersifat kekal. Sifat abadi atau kekal hanyalah milik Sang Pencipta. Semua yang ada di dunia ini lambat laun pasti akan musnah. Perlahan, tapi pasti. Bisa cepat, dan itu nyata. Keabadian sering juga diartikan sebagai suatu kelanggengan yang identik dengan adanya sifat yang tidak pernah berubah. Namun, cobalah kita tinjau dan resapi kembali kalimat “sifat yang tidak pernah berubah”. Apakah dalam kehidupan di dunia ini ada sifat yang tidak berubah? Kita contohkan saja dalam lingkungan berteman. Terkadang kita tidak bisa menebak bagaimana sifat seseorang yang sedang berteman dengan kita. Mungkin di awal kita mengenal orang tersebut, kita menilai bahwa orang itu sangat baik, sangat ramah, dan kita selalu merasa nyaman berteman dengannya. Namun, setelah lama kita berteman, lambat laun, tentu ada sesuatu yang beda. Sesuatu itu adalah perubahan. Perubahan itu bermacam-macam. Kita lihat saja dari aspek perubahan sikap orang tersebut. Lama-kelamaan, kita juga pasti akan mengenal sifat asli dari orang tersebut. Bisa jadi sifat asli tersebut adalah bertentangan dengan penilaian kita yang sebelumnya. Setiap orang pasti bisa berubah. Tak ada yang selamanya akan tetap seperti sedia kala, tak abadi. Yang dikatakan oleh manusia tentang kebadian adalah merupakan keabadian yang bersifat semu. Dari sejak dahulu hingga sampai saat ini, jika kita perhatikan yang terjadi adalah suatu perubahan. Perubahan itu ada dan terjadi tak lain karena ada yang namanya waktu. Sedangkan jika kita cermati, pengertian tentang keabadian yang hakiki adalah tidak terikat oleh yang namanya waktu. Ini adalah argumen yang nyata, bahwa di dunia memang tidak ada yang abadi. Bagaimana tidak, keabadiaan itu tak terikat oleh waktu, sedangkan dalam hidup manusia itu terikat oleh waktu. JIka pengertian dari keabadian itu diartikan sebagai suatu keadaan yang terus-menerus, maka di sisi lain dapat dikatakan bahwa yang abadi yaitu perubahan itu sendiri. Inilah yang sebenarnya pengertian yang mendekati makna keabadian yang sesungguhnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering mendengar yang namanya “cinta abadi”. Cinta abadi hanyalah ada dalam perkataan atau dalam kalimat saja. Namun, dalam realita kehidupan di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang dikatakan suatu keabadian. Sungguh sangat menarik sekali jika kita mengulas apa sebenarnya makna keabadian itu. Penuh perbedaan dalam aspek seseorang memahami dan mengartikan apa itu makna dari keabadian. Namun, seberapa banyak pun perbedaan itu, yang harus kita ingat hanyalah satu, yaitu bahwa di dunia ini tak ada yang abadi. Manusia sering menyebut-nyebut bahkan meyakini bahwa akhirat adalah tempat yang abadi; kendati demikian mari kita bahas keabadian yang dimaksud tersebut menurut islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis Keabadian Alam Akhirat Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri ra. : Rasulullah Saw pernah bersabda, “pada hari kiamat, maut akan dibawa maju ke depan dalam bentuk biri-biri jantan berwarna hitam dan putih. kemudian sang penyeru akan memanggil, ‘wahai para penghuni surga’. mereka akan memutar leher mereka dan melihat dengan hati-hati. yang memanggil akan berkata, ‘tahukah kalian apa ini?’ mereka berkata,’ya. Maut’. pada saat itu mereka semua dapat melihatnya. Kemudian akan diumumkan kembali, ‘wahai para penghuni neraka!’. mereka akan memutar leher mereka dan melihat dengan hati-hati. yang memanggil akan berkata, ‘tahukah kalian apa ini?’ mereka akan berkata, ‘ya. Maut’. dan pada saat itu mereka dapat melihatnya. Kemudian biri-biri jantan itu akan disembelih dan sang penyeru akan berkata, ‘wahai penghuni surga! keabadian (untuk kalian) dan tak ada kematian. wahai penghuni neraka! keabadian (untuk kalian) dan tak ada kematian'”. Kemudian Nabi Saw membacakan ayat berikut : Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, ketika segala perkara diputuskan. mereka dalam kelalaian dan mereka tidak pula beriman. (QS. Maryam [19]:39) [HR Bukhari] Keabadian surga dan neraka “Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud 106-108) “…sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah penguasa alam…” Bagi sebagian besar umat manusia, surga adalah impian dan tujuan dari setiap kegiatan ibadahnya. Namun marilah kita renungkan, sesungguhnya apa itu surga dan neraka. Orang berkeyakinan bahwa surga adalah kekal adanya, tanpa mencoba untuk merenungkan: “bukankah sifat abadi dan kekal hanya Allah semata yang memilikinya ?” Kita sering lupa bahwa mahluk tidak kekal, karena apabila mahluk bersifat kekal, maka dia tidak berbeda dengan Allah. Sifat kekal hanya berlaku bagi Allah semata. Kekekalan mahluk hanya sebatas waktu yang tidak bisa dihitung oleh perhitungan manusia. Padahal surga dan neraka adalah mahluk, dan bagaimana mungkin mahluk bersifat kekal ? Allah menjelaskan dalam surat Huud ayat 106-108, bahwa kekekalan surga dan neraka hanya sebatas langit dan bumi masih ada. Artinya, surga dan neraka sendiri tidak kekal, dan ketika kita berharap untuk masuk ke surga, maka pada saat itu tujuan ibadah kita rusak karena berharap untuk kembali kepada selain Allah. Padahal surga atau kesenangan hanyalah karunia atau hadiah dari Allah semata. Lalu ke mana kita pulang ? Tentu ke asal dari segala sesuatu, yaitu Allah swt. “Sesungguhnya dari Allah kita berasal dan kepadaNya kita kembali”. Kita seringkali kurang berpikir, dan betapa tidak tahu diri. Coba kita pahami makna salah satu doa iftitah dalam setiap shalat kita “… sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah penguasa alam …”. Ini adalah sumpah kita. Namun pada akhirnya, ketika selesai shalat, tetap kita berharap surgaNya, bukan pertemuan denganNya. “Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.” (Al Jin 13) Kembali kepada pribadi masing-masing, adakah masih berharap pada surga Allah belaka ataukah kembali kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar