Sejarah Singkat Perjuangan Semasa Hidup K.H. Fakhrurozi, Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Wadil' Ulum Sukalilah - Jampang Media

Breaking

Jumat, 14 April 2017

Sejarah Singkat Perjuangan Semasa Hidup K.H. Fakhrurozi, Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Wadil' Ulum Sukalilah

Photo semasa hidup K.H. Fakhrurozi, Pendiri Pondok Pesantren Wadil' Ulum Sukalilah

K.H. Fakhrurozi pendiri Pondok Pesantren Wadil Ulum Sukalilah, adalah putera dari Mama H. Fudoli atau yang lebih dikenal dengan nama BA’A Tanjung pendiri Pondok Pesantren AL-Fadilah Tanjung Kecamatan Kadupandak Kabupaten Cianjur. BA’A Tanjung adalah tangan kanan Mama Syatibi pengasuh Pondok Pesantren Ciharashas yang merupakan orangtua kandung dari Aang Nuh Gentur.
Ma’sum lahir pada tahun 1920 Masehi di Cianjur tepatnya di Tanjung Kecamatan Kadupandak. Ma’sum adalah nama waktu usia dini K.H. Fakhrurozi, yang kemudian genap usianya yang ke 5 tahun BA’A Tanjung yang merupakan orangtua Ma’sum, mengganti nama puteranya dari Ma’sum menjadi Fakhrurozi. Pada usia itu juga (usia 5 tahun) mulai mengenyam pendidikan formal, atau pada masa itu dikenal dengan nama Sekolah Rakyat.
Yang dimana sekolah rakyat ini adalah sekolah yang didirikan oleh belanda pada tahun 1602 untuk anak-anak indonesia dengan tujuan untuk menghasilkan pegawai-pegawai rendahan baik untuk pegawai negeri maupun pegawai swasta. Pembukaan sekolah itu didorong oleh kebutuhan praktis berkaitan dengan pekerjaan di berbagai bidang dan kejuruan. Selain itu tujuan utamanya adalah untuk lebih memperkuat kedudukan kolonial belanda di Indonesia.
Kemudian setelah mengenyam pendidikan 5 tahun lamanya, pada tahun 1930 Fakhrurozi mulai melakukan riadhoh. selanjutnya Fakhrurozi memulai mempelajari teknik melawan dan mengusir penjajah, dalam hal ini belanda. tidak lama, Fakhrurozi kembali melakukan  Riadhoh dan lanjut menimpa ilmu agama di Pondok Pesantren Ciharashas.
Pada tahun 1935 Fakhrurozi berangkat ke tanah suci Makkah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke 5 yaitu melakukan Haji dan untuk memperdalam Ilmu Agama disana. Tahun 1942 K.H. Fakhrurozi kembali ke Tanah Air untuk berjuang bersama Rakyat Indonesia melawan penjajah.
Dengan karomah yang diberikan Allah SWT kepadanya, pada saat melawan penjajah di cibeber Cianjur. K.H. Fakhrurozi seringkali mati langkah saat terkepung penjajah, namun selalu bisa meloloskan diri. Suatu saat K.H. Fakhrurozi tertangkap oleh penjajah dan di siksa, dipopor, digusurmenggunakan mobil kurang lebih sekitar 19 km. namun atas pertolongan Allah SWT, K.H. Fakhrurozi tidak merasakan kesakitan yang seharusnya bisa dirasakan oleh orang biasa. K.H. Fakhrurozi merasakan kenikmatan saat diperlakukan tidak manusiawi oleh colonial tersebut.
Setelah digusur kurang lebih sekitar 19 km K.H. Fakhrurozi disekap, dimasukan kedalam penjara yang didalamnya adalah sebuah bak yang isinya dipenuhi oleh lintah, dengan kondisi ruang tahanan gelap gulita, tidak terlihat sinar matahari sedikitpun. selama 63 hari K.H. Fakhrurozi ditahan Tapi tidak ada satupun lintah yang menyengat. Dan malah K.H. Fakhrurozi merasakan kenyamanan dan kenikmatan kembali.
Tahun 1945 Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaanIndonesia. Rakyat yang ditahan oleh colonial termasuk K.H. Fakhrurozi dibebaskan. Dan K.H. Fakhrurozi kembali ke kampung halamannya Tajung Kadupandak kembali berkumpul bersama keluarga dan orangtuanya.
Suatu hari BA’A Tanjung di datangi oleh Para Tokoh Agama dari sagaranten, yang maksud kedatangannya Tokoh Agama dari sagaranten tersebut untuk melaporkan kondisi wilayahnya yang dimana rakyat dan umat islam di sagaranten terus mendapat tekanan dari jawara antek-antek kolonial yang tersisa.
Perjuangan K.H. Fakhrurozi tak kunjung usai, bahkan setelah Indonesia meraih cita-citanya mendapat kemerdekaan. Karena pada tahun 1948 K.H. Fakhrurozi ditugaskan oleh ayahnya (BA’A Tanjung) untuk hijrah ke Kecamatan Sagaranten Sukabumi. Akhirnya K.H. Fakhrurozi menjalankan tugas yang diperintahkan oleh ayahnya dan menikah dengan Hj. Maryama Jamah. Yang dimana Hj. Maryama Jamah adalah santri BA’A Tanjung yang berasal dari Cipetir Kecamatan Sagaranten masa itu, yang sekarang menjadi Kecamatan Cidadap.
Diawal perjuangannya di daerah sagaranten, tepatnya pada tahun 1949 K.H. Fakhrurozi mendirikan Pondok Pesantren Wadil’Ulum Sukalilah. Selain mengurus santri, K.H. Fakhrurozi juga berperan aktif sebagai tokoh agama yang bergerak dalam menjaga keamanan wilayah dari ancaman penjajah yang masih tersisa di perkebunan cikasintu.
Tidak sampai disitu. Peran hidupnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, Khusunya di daerah Kecamatan Sagaranten berlanjut pada peristiwa yang termasuk kedalam peristiwa paling bersejarah di Indonesia. Yaknioperasi penumpasan G30S/PKI pada tahun 1965 yang berbuntut sampai pada tahun 1966. Di daerah Sagaranten dan sekitarnya, K.H. Fakhrurozi juga kembali berperan sebagi tokoh agama yang menggerakan masyarakat dalampenumpasan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesi (G30S/PKI).
Tahun 1978 K.H. Fakhrurozi kedatangan tamu dari aparat ABRI yang menawarkan kemewahan dan kenyamanan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas perjuangan yang telah dilakukan oleh K.H. Fakhrurozi. Namun tanpa berfikir panjang K.H. Fakhrurozi menolak penawaran tersebut, jawabannya karena perjuangan melawan, mengusir penjajah dan berperan penting dalam penumpasan Gerakan Sparatis Partai Komunis Indonesia yang dilakukan olehnya semata-mata hanya ingin mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam beribadah dan mendapat kebebasan dalam mengembangkan dan menyebarluaskan Ajaran Islam.
Setelah segala kekisruhan yang terjadi di Indonesia usai, pendiri Pondok Pesantren Wadil’ Ulum Sukalilah ini melanjutkan peran perjuangannya. Bukan kembali berperan melawan kekisruhan, malinkan berperan dalam memperjuangkan pembangunan infrastruktur daerah. Tahun 1980, K.H. Fakhrurozi memperjuangkan pembangunan jalan cibarengkok – Kadupandak dan pembangunanjembatan Cibuni yang menghubungkan Sekabumi Selatan dengan Cianjur Selatan.
Ada satu cerita lagi yang terungkit dari sejarah hidup K.H. Fakhrurozi. Yang dimana cerita ini hampir sama dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya. Suatu hari K.H. Fakhrurozi berjalan dari Sukalilah mau mengunjungi orangtunya di Tanjung Kadupandak. K.H. Fakhrurozi sampai di tepi sungai cibuni. setibanya ditepian sungai, K.H. Fakhrurozi terhenti tidak melanjutkan perjalanannya karena arus sungai sangat deras tidak memungkinkan untuk dilewati. K.H. Fakhrurozi diam beberapa jam di tepi sungai menunggu orang lain yang yang mungkin akan menyebrang sungai juga. Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya ada beberapa orang yang datang dan orang yang datang tersebut kebingungan saat melihat derasnya air sungai. K.H. Fakhrurozi mengambil ranting, ranting tersebut digoreskan ke air sungai. dengan kekuasaan Allah SWT aliran air sungai terhenti dan membentuk bendungan dengan sendirinya. Saat air sungai membendung, K.H. Fakhrurozi bersama yang lainnya menyebrangi sungai. Setelah sampai ditepi sungai sebrangnya, air sungai yang semula membendung kembali mengalir dengan begitu derasnya.
Dari hasil pernikahannya dengan Hj. Maryama Jamah, K.H. Fakhrurozi memiliki putera-puteri yang meneruskan perjuangannya dalam mengasuh dan mengelola Pondok Pesantren Wadil’ Ulum Sukalialh. K.H. Fakhrurozi mendapat 8 orang putera, yaitu :
1.      H. Syu’eb Fakhru (H. Uep)
2.      Hj. Ai
3.      Ust. Daud Falah (Kg Dafah)
4.      K.H. Maknun
5.      Ustajah Ninis
6.      Ustajah Oob
7.      Ust. Sabik
K.H. Fakhrurozi wafat pada Malam Jum’at tanggal 26 Zulhijjah tahun 1416 H / 12 Mei 1996 M.

Sumber: Ust. Sabik (Putera K.H. Fakhrurozi sekaligus Pengelola Pondok Pesantren Wadil' Ulum Sukalilah)


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَا اَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَ وَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى
. روه ابو داود وترمذى

“Barang siapa membuat tarekh (Biografi) seorang muslim, maka sama dengan menghidupkannya. Dan barang siapa ziarah kepada seorang Alim, maka sama dengan ziarah kepadaku (Nabi SAW). Dan barang siapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka wajib baginya mendapat syafatku di Hari Qiyamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar