Ketidakadilan Pemerintah Bertentangan Dengan UUD 1945 - Jampang Media

Breaking

Rabu, 14 Februari 2018

Ketidakadilan Pemerintah Bertentangan Dengan UUD 1945

Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, pada Indonesia Lawyers Club "Teror ke pemuka agama: adakah dalangnya?"

UUD disepakati oleh panitia Sembilan pada 22 juni 1945, tegas sekali pemerintah Indonesia dihadirkan dalam rangka untuk melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dikatakan oleh Hidayat Nur Wahid. Pada acara Indonesia Lawyers Club, Selasa (13/2/2018)

Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid mengatakan, ketika indonesi diresmikan negara merdeka, bukan untuk membiarkan rakyatnya menjadi korban persekusi, penganiayaan dan atau menghadirkan konflik antar warga bangsa. Jadi kalau sampai saat ini masih bertanya “adakah dalangnya tau tidak” pertanyaannya kemudian, “dimana negara ?”. dan bagaimana negara menjalankan kewajibannya sebagaimana yang diperitahkan oleh UUD.

Disepakati bahwa UUD adalah piagam Jakarta, yang ditegaskan oleh bung Karno sebagai bagian yang tak terpisahkan dan menginspirasi seluruh bangunan dari pada UUD. dan MPR pada priode Pak Amin Ra’is tegas menyampaikan bahwa, pembukaan UUD disepakati untuk tidak dilakukan perubahan. Artinya, kesepakan mengapa kita merdeka dan kesepakatan untuk apa pemerintah dibentuk ada sesuatu yang tidak boleh dilupakan.

Kemudian, Hidayat Nur wahid melanjutkan, Umat islam merasa tidak adil karena sikap negara seolah-olah merasa tidak ada masalah kalau uat islam yang menjadi korban. Padahal, persekusi yang terjadi terhadap umat islam korbannya lebih banyak daripada yang terjadi terhadap umat lain. Dan ini jelas bertentangan dengan visi bernegara yang kita hadirkan, ini juga akan menghadirkan kerawanan yang tidak membuat kita menjadi nyaman dalam konteks kebersamaan warga negara Indonesia.

Perang terbesar adalah perang yang tidak ada urusannya dengan agama, itu dengan sangat mudah bisa kita lihat dari perang dunia pertama dan kedua. Itu tidak ada urusannya dengan agama apapun, tapi korbannya jelas paling banyak.

Jadi jangan memperkeruh suasana seolah-olah kerana agama terjadi perang dan sebagian besar besar perang di dunia ini karena masalah-masalah agama, padahal agama adalah korban dari begitu banyak kepentingan ekonomi, politik dll. Tutupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar