AmanahNegeriku.com,- Menyambut Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, Demi Sukseskan Pilkada 2018 dan Kelangsungan Kepemimpinan Nasional 2019 Secara Damai, Santri, toko masyarakat, dan perwakilan dari komunitas Balad Jokowi kampanye menyeru untuk menolak tiga isu yang saat ini berkembang, yakni menolak hoax, isu SARA dan menolak Terorisme. Kamis (24/4/2018).

Dalam acara tersebut hadir juga, Gus Zuri, cucu pendiri Pondok Pesantren Nur El Falah Serang. Almarhum KH.Abdul Kabier (tokoh pendidikan Banten) yang merupakan salah satu murid dari Hadrotusyaikh KH Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama). Juga merupakan komandan Hizbullah Banten yang turut mempertahankan wilayah NKRI wilayah Banten.
Ustadz Fathi Aziz dari komunitas relawan Urang Balad Jokowi mengatakan, konstelasi politik jelang pilkada 2018 dan pilpres 2019 diperkirakan akan terus memanas, karena penggunaan isu SARA diprediksi akan kembali dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan untuk saling menjatuhkan lawannya. “Apalagi didukung dengan informasi hoax dari oknum tidak bertanggung jawab,” katanya di sela-sela acara.
“Hal itu akan memperkeruh masalah dan berpotensi dapat menyebabkan terjadinya konflik sosial dan tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan instabilitas keamanan nasional.”
Menurut Ustadz Fathi, kalangan ulama dan masyarakat muslim Serang sebagai warga mayoritas berperan penting dalam mengendalikan kondisi seperti ini. Khususnya para santri sebagai generasi muda, sangat penting dalam menyejukkan masyarakat, meminimalisir terjadinya konflik sosial. Ikut menyerukan anti hoax dan pemilu damai diberbagai kesempatan, khususnya di media sosial.
Ia mengatakan “banyak pihak yang dirugikan atas informasi hoax dan kampanye isu SARA ini, tidak terkecuali pemerintah. Banyak kebajikan Pemerintah pro rakyat yang tidak tersampaikan secara baik akibat serangan hoax dan isu sara ini. Pemerintah, dalam hal ini presiden Jokowi sangat mendukung upaya setiap elemen masyarakat dalam menentang hoak dan isu SARA.”
Jauh sebelum Indonesia merdeka, kiai-santri dan Pesantrennya telah memantapkan sikap nasionalisme, yaitu cinta terhadap tanah air Indonesia. Fathi menjelaskan kepada santri bahwa para kiai dan santri memiliki saham besar terhadap kemerdekaan dan berdirinya NKRI. “Jadi jika ada yang ingin menghancurkan negeri ini, santri paling depan membela,” tandasnya.
“Terorisme yang sekarang kembali melanda bangsa ini, juga bagian dari upaya kelompok radikal menghancurkan negara ini. Dan Santri tegas menolak tegas ajaran terorisme ini,” tegasnya.