Waspadai Modus Negara Islam Indonesia (NII) - Jampang Media

Breaking

Sabtu, 17 November 2018

Waspadai Modus Negara Islam Indonesia (NII)

Bendera NII
Ditulis oleh Andi Supriadi, Pengamat Budaya & Lingkungan.

Agen-agen Negara Islam Indonesia (NII), sejatinya tidaklah pernah berniat mengsejahterakan anggota-anggotanya. Mereka hanya berpikiran untuk memanfaatkan simpatisannya untuk kepentingan ekonomi para pengurus dan aktivisnya.

Para pendiri bangsa ini sudah jelas telah sepakat untuk mendirikan  negara atas dasar konsep negeri yang Daarussalam, yaitu NKRI, sesuai dengan realitas kemajemukan yang ada, yang tentu saja juga sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Kalangan yang berambisi mengeruk keuntungan emosional & finansial melalui isue sexy, rencana pendirian "Negara Islam Indonesia", adalah sebuah kebohongan belaka. Pola dan metode pergerakannya saja sudah jelas bertentangan dengan  ajaran Islam itu sendiri dan  norma luhur bangsa Insonesia. Betapa tidak ? Mereka menghalalkan segala cara, termasuk seperti : berbohong, menyebar fitnah, mengambil barang yang bukan haknya, mengkafirkan orang yang diluar anggota kelompoknya atau tidak sejalan dengan keyakinannya, sampai dengan tindakan intimidasi, provokasi dan pemerasan secara metode proxy.


Orang-orang NII ini sejatinya adalah manusia-manusia pengecut. Tidak akan berani diajak duel satu lawan satu, baik secara debat maupun pertarungan fisik.
Mereka kerapkali menyebarkan ketakutan kepada calon yang akan direkrutnya dengan menakut-nakuti jika tidak masuk kelompoknya maka Islamnya tidak Kaffah / dan tidak akan mendapat surga.
Bagi kalangan muslim yang labil, metode ini  efektif dapat mempengaruhinya hingga terlena dengan bujuk rayunya yang selalu dibungkus demi penegakan agama Allah.

Setelah menyebar ketakutan, selanjutnya agen-agen NII ini biasanya akan mulai meminta sumbangan dana untuk kepentingan operasional pergerakan organisasi dengan dilatari sejuta bualan tentang konpensasi yang akan diterima bila ikut menyumbang pergerakan mereka. Mulai dari dana buat membeli pulsa, ongkos /bensin, makan minum, membeli pakaian sampai sumbangan rutin tiap bulannya.

Mereka lebih menyibukkan dirinya untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan memanfaatkan celahnya untuk kepentingan mereka. Seperti menghina nama-nama orang yang mereka anggap namanya tidak Islami (yang tidak memakai nama arab atau nama yang mengandung pengertian atau kependekan dari misi Islam). Mereka hoby mencela orang lain, tapi lupa dengan kekurangan dirinya sendiri.

Jelas ini bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Rosulullah telah jelas sesuai wahyu yang diterimanya , menuntut kita sibuk untuk memperbaiki diri sendiri bukan malah mencari-cari kesalahan atau kekurangan orang lain. Mereka mencari keuntungan dari keterpurukan orang lain, bukan dengan azas "watawasoubil haq watawa soubissobri".

Islam yang benar tidaklah mungkin gemar mengkafirkan orang lain yang kebetulan tidak sefaham dalam beberapa hal. Islam yang benar tidaklah mungkin menyebarkan rasa ketakutan tanpa dasar, Islam yang benar tidaklah akan menyalahkan pengajaran pihak lain. Islam yang benar tidak akan memeriksa murid pihak lain yang berpotensi ketersinggungan dari pihak yang dikoreksinya.

Perihal kelompok NII itu adalah Islam juga mungkin ada benarnya. Mungkin juga NII itu   adalah beriman, juga ada benarnya. Tapi yang jelas mereka tidak melaksanakan pilar Islam yang ketiga, yaitu Ihsan, dimana kita mesti meletakan segala sesuatu itu secara baik dan benar. Karena sekalipun sesuatu itu baik tapi jika melakukannya dengan tidak  benar, akan menjadi salah akhirnya. Demikian pula sebaliknya, sesuatu yang benar bila melakukannya  dengan tidak baik, akan menjadi salah juga akhirnya.

Pondasi ajaran Rosulullah yang berupa Iman, Islam dan ihsan jangan diceraiberaikan, apalagi hanya untuk memenuhi nafsu duniawi.
Semoga shalawat selalu tercurah bagi Baginda. Nabi Muhammad, pembuka barang yang terkunci, penutup segala yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar & petunjuk (yang benar) kepada jalan yang istiqomah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar