Makalah Perkembangan Psikologi Agama Islam Pada Anak - Jampang Media

Breaking

Sabtu, 05 Januari 2019

Makalah Perkembangan Psikologi Agama Islam Pada Anak


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang dibedakan dari makhluk lainnya, yang memerintahkan kepada kebaikan, bertaqwa kepada-Nya serta melarang berbuat kemungkaran.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak berbicara dari hawa nafsu, semua pembicaraannya didasarkan atas wahyu yang diturunkan kepadanya, keselamatan juga semoga dilimpahkan kepada keluarganya, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Berkat rahmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kami, makalah yang berjudul “Perkembangan Psikologi Agama Islam Pada Anak” Dapat kami selesaikan, sekalipun di dalamnya masih banyak terdapat kesalahan-kesalahan, karena hanya itulah batas kemampuan kami, dan karya ini tidak dapat kami selesaikan tanpa adanya bantuan-bantuan dari pihak Iain, oleh karena itu ucapan terima kasih yang tak ternilai kami haturkan kepada pihak yang telah membantu kami baik secara moril maupun materil.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas sekaligus mendalam dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syamsul Ulum Gunung Puyuh. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  kami  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  kami  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Wassalamualaikum, Wr.Wb
Sukabumi, 02 Oktober  2018


                                                                                                                        Penyusun




DAFTAR ISI

Kata  Pengantar….…………………………………………………………………………… 1
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………... 2
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………….……………. 3

A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Pembuatan Makalah
D.    Metode Penelitian

Bab II Pembahasan…………………………………………………………….……………………...4

A.    Pengertian dan Tahap Perkembangan Pada Anak
B.     Proses Timbulnya Keagamaan Pada Anak……………………………………………5
C.     Perkembangan Agama Pada Masa Anak…………………………………………… ..6
D.    Sifat –Sifat Agama Pada Masa Anak…………………………………………………7
E.     Hambatan –Hambatan Dalam Perkembangan Pada Masa Anak……………………...8






Bab III
Penutup………………………………………………………………………………………...9
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………..10




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia adalah merupakan suatu makhluk yang mempunyai beberapa kebutuhan baik itu kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya. Kebutuan-kebutuhan itu ada yang sifatnya apabila tidak dipenuhi bisa berpengaruh pada kehiduan.
Berkenaan dengan kebutuhan jasmani dan rohani itu ada suatu kebutuhan yang yang bersifat universal atau setiap manusia mempunyai kebutuhan tersebut atau dengan kata lain suatu kebutuhan yang sudah merupakan kodrat. Kebutuhan itu adalah kebutuhan akan agama. Karena dengan adanya kebutuhan ini manusia akan mengetahui siapa dirinya sesungguhnya, dan untuk apa dia diciptakan.
Jadi, kebutuhan agama perlu ditanamkan pada usia tertentu, agar kelak manusia itu mempunyai suatu pemahaman tentang agama yang baik nantinya. Usia yang baik atau perkembangan jiwa beragama ini agar lebih jelasnya pemakalah akan mencoba menguraikannya dalam makalah yang sederhana ini.
Ada Sekolompok ahli yang berpendapat bahwa timbulnya jiwa keagamaan itu dari lingkungan, karena anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religious. Menurut pendapat ini, anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang dan bahkan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada bayi manusia itu sendiri.
Ada pula sekolompok ahli yang berpendapat bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Namun fitrah ini baru berfungsi dikemudian hari setelah melalui proses bimbingan dan latihan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan tahap perkembangan pada anak ?
2.      Bagaimanakah proses timbulnya keagamaan pada anak?
3.      Bagaimanakah perkembangan agama pada masa anak anak ?
4.      Bagaimanakah sifat-sifat agama pada masa anak?
5.      Apa saja hambatan-hambatan dalam perkembangan pada masa anak?

C.    Tujuan Pembuatan Makalah
1.      Untuk mengetahui pengertian dan tahap perkembangan pada anak
2.      Untuk mengetahui proses timbulnya keagamaan pada anak
3.      Untuk mengetahui perkembangan agama pada masa anak anak
4.      Menegtahui sifat-sifat agama pada masa anak
5.      Mengetahui hambatan hambatan dalam perkembangan pada masa anak  

D.    Metode Penelitian
Pada makalah ini kami menggunakan metode deskripsi untuk menggambarkan masalah penelitian dengan metode Penelitian kepustakaan atau library research yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian dan Tahap Perkembangan Pada Anak

Masa kanak- kanak adalah masa  masa sebelum masa remaja, yaitu masa sebelum umur 12 tahun, di mana masa tersebut sebenarnya mengandung tiga periodesasi perkembangan, yaitu :

1.      Umur 0,0 – 2,0 tahun disebut masa vital. Masa vital merupakan masa perubahan jasmani yang tercepat. Pada umumnya jika anak itu normal dan sehat, maka selama enam bulan pertama, bertambah kurang lebih dua kali lipat dari berat badannya sewaktu lahir. Orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak dan juga dalam pembentukan pribadi anak pada masa ini.
2.      Umur 2,1 – 6,0 tahun disebut masa kanak-kanak. Pada masa kanak-kanak terjadi perkembangan psikis yang terbesar. Menurut Konhstam pada masa ini anak mengalami perkembangan pengamatan indera yang terbesar. Anak mulai sadar akan dirinya dan mulai mengenal antara dirinya dan orang lain. Masa ini disebut orang Barat dengan masa individualisme yang pertama, yaitu suatu masa di mana anak menunjukkan kecenderungannya untuk berkeras kepala, suka menolak perintah atau saran-saran dari orang lain.
3.      Umur 6,1 – 12,0 tahun disebut masa sekolah. Masa sekolah yaitu masa di mana anak sudah mulai dianggap matang untuk mengikuti pelajaran di sekolah dasar, jika perkembangan anak tersebut normal. Adapun tanda-tanda kematangan itu antara lain:[1]
a.       Ada kesadaran terhadap kewajiban dan pekerjaan serta berkesanggupan untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh orang lain kepadanya walaupun sebenarnya dia tidak menyukainya.
b.      Perasaan sosial kemasyarakatan sudah mulai tumbuh dan berkembang, hal ini dapat terlihat di dalam pergaulan anak dengan teman-temannya.
c.       Telah memiliki perkembangan jasmani yang cukup kuat dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
d.      Telah memiliki perkembangan intelek yang cukup besar, hingga memiliki minat, kecekatan, dan pengetahuan.




Menurut Raharjo dalam karyanya yang berjudul “Pengantar Ilmu Jiwa Agama”, perkembangan jiwa beragama pada anak terbagi menjadi tiga, yaitu:[2]
1.      The Fierly Tale Stage (Tingkat Dongeng), tahap ini terjadi pada anak berumur 3-6 tahun. Konsepnya mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Cerita Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng-dongeng.
2.      The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan), pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai Pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Pada tahap ini terdapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logika, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
3.      The Individual Stage (Tingkat Individu), pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka.

B.     Proses Timbulnya Keagamaan Pada Anak
Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik, maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mentap lebih-lebih pada usia dini.
Sesuai dengan prinsip pertumbuhannya, seorang anak dalam proses menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip yang dimilikinya, yaitu:
1.      Prinsip biologis
Secara fisik, anak yang baru dilahirkan dalam keadaan lemah, dalam segala gerak dan tindak tanduknya, selalu memerlukan bantuan dari orang-orang dewasa sekelilingnya. Dengan kata lain ia belum dapat berdiri sendiri karena manusia bukanlah merupakan makhluk instinktif. Keadaan tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
2.      Prinsip tanpa daya
Sejalan dengan belum sempurnanya pertumbuhan fisik dan psikisnya, maka anak yang baru dilahirkan hingga menginjak usia dewasa selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk mengurus dirinya sendiri.
3.      Prinsip eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan potensi manusia yang dibawanya sejak lahir, baik jasmani maupun rohani memerlukan pengembangan melalui pemeliharan dan latihan. Jasmaninya baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya.
Kesemuanya itu tidak dapat dipenuhi secara sekaligus melainkan melalui pentahapan.


C.    Perkembangan Agama Pada Masa Anak
Setiap anak atau manusia mempunyai beberapa kebutuhan dasar yang berasal dari dorongan-dorongan manusiawinya, antara lain:
1.      Dorongan fisik (jasmaniah)
2.      Dorongan emosional (perasaan)
3.      Dorongan sosial (bergaul, bermasyarakat)
4.      Dorongan mental (berilmu dan berpengalaman)
5.      Dorongan spiritual (beragama, bermoral, dan sebagainya)

Dorongan-dorongan tersebut dibawa anak semenjak lahir, sehingga dengan demikian setiap anak yang normal membutuhkan hal-hal yang sifatnya jasmaniah dan berkaitan dengan kebutuhan biologisnya, untuk dapat memenuhi dan menyalurkan perasaannya, kebutuhan akan orang lain dalam kehidupan bersama dan bermasyarakat, kebutuhan ilmu pengetahuan dan pengalaman termasuk kebutuhan akan agama dan moral.
Dengan demikian rasa keagamaan yang terdapat dalam diri anak adalah bersifat instinktif (fitri), sebagaimana dalam aspek-aspek psikis yang lainnya. Rasa keagamaan itu ada dengan sendirinya dalam diri anak yaitu rasa pengakuan adanya kekuatan dari sesuatu di atas kekuatan dirinya dan alam.
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman. Dan seorang anak yang tidak mendapat pendidikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung terhadap sikap negatif terhadap agama. Hubungan anak dengan orang tuanya, mempunyai pengaruh dalam perkembangan agama anak, karena anak akan merasakan hubungan hangat dengan orang tuanya, merasa bahwa ia disayangi dan dilindungi, serta mendapat perlakuan yang baik. Mereka akan mudah menerima dan mengikuti kebiasaan orang tuanya dan selanjutnya akan cenderung kepada agama.[3]
Memang untuk memberikan pendidikan agama khususnya menanamkan rasa ke-Tuhanan dalam diri anak yang relatif usianya sangat muda, orang tua sedikit mengalami kesulitan karena bagi anak itu sendiri pemikiran tentang Tuhan adalah sesuatu tentang kenyataan luar, dan anak pun juga akan sedikit mengalami pengalaman yang pahit.
Dengan demikian maka di dalam penjabarannya kita melihat berbagai tingkah laku anak dan juga di dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada orang di sekitarnya ataupun juga di dalam lukisan kata-kata mereka. Yang kesemuanya itu merupakan penyaluran yang efektif bagi anak sebagai penyebab dari keraguan yang selama ini dialami. Dalam saat-saat demikian inilah pengaruh luar mempunyai perasaan yang sangat menentukan pola keagamaan anak, dan perkembangan rasa keagamaannya untuk masa-masa yang akan datang.[4]



D.    Sifat –Sifat Agama Pada Masa Anak
Memahami konsep keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on authority. Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritas, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh fakrot dari luar diri mereka. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:

1.      Unreflective (tidak mendalam).
Anggapan anak terhadap ajaran agama dapat mereka terima dengan tanpa kritik. Karena anggapan mereka tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal.[5]
2.      Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur pada diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada rasa egonya. Dengan demikian, semakin bertumbuh, semakin mengingkat pula egoisnya.
3.      Antromorpis
Konsep mengenai ke-Tuhanan pada anak berasal dari hasil pengalamannya dikala ia berhubungan dengan orang lain. Mereka menganggap bahwa keadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Pekerjaan Tuhan mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat.
4.      Verbalis dan Ritualis
Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan. Mereka juga melaksanakan tuntunan yang diajarkan.
5.      Imitatif
Dapat kita saksikan bahwa tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh dari meniru. Berdo’a dan sholat misalnya mereka laksanakan karena hasil melihat perbuatan di lingkungan, baik berupa pembiasaan atau pun pengajaran yang intensif.
6.      Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Rasa kagum pada anak belum bersifat kritis dan kreatif sebagaimana orang dewasa.[6]

Ringkasnya, masa anak-anak merupakan periode yang dinamis secara psikologis maupun religius. Anak-anak memiliki kemampuan yang luar biasa dalam meniru perilaku orang dewasa. Tetapi pada umumnya anak memasukkan ke dalam pikiran, perasaan, dan kehendaknya apa yang didengar dan dilihatnya sesuai dengan kemampuannya. Menerima agama masa anak dan memberi keleluasaan kepada mereka untuk bebas ikut serta dalam kegiatan umat yang diikuti oleh semua anggota dari segala umur, dapat menjadi cara untuk menyiapkan mereka dalam peziarahan menuju kedewasaan religius.[7]


E.     Hambatan –Hambatan Dalam Perkembangan Pada Masa Anak
Di dalam menuju kedewasaan beragaman, maka akan terjadi hal-hal yang kadang-kadang mengganggu perkembangan pada anak. Perkembangan memerlukan waktu, karena kedewasaan beragama tidak terjadi secara tiba-tiba. Dan juga perkembangan tersebut tidaklah monoton, tetapi banyak variasi secara berirama dijumpai di dalamnya. Menurut M. Hafi Anshari dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama” menyebutkan dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan, yaitu:

1.      Faktor diri sendiri
Dalam hal ini ada dua yang menonjol yaitu kapasitas diri dan pengalaman. Kapasitas diri berupa kemampuan ilmiah (ratio) dalam menerima ajaran-ajaran agama. Di sini akan terlihat perbedaan antara anak yang mampu dan kurang mampu dalam menerima agama. Bagi yang mampu menerima dengan rationya, mereka akan menghayati dan kemudian mengamalkan ajaran-ajaran agama itu dengan baik.
Namun lain lagi dengan anak yang kurang mampu menerima dengan rationya, dia akan lebih banyak terganggu kepada kondisi masyarakat yang ada. Dalam keaktifan berbuat melakukan perbuatan religious sebenarnya mereka penuh keraguan dan kebimbangan, sehingga apabila terjadi perubahan-perubahan, maka perubahan tersebut tidaklah melalui prose berpikir sebelumnya, tetapi lebih bersifat emosional.[8]
Di samping kemampuan rasional, kemampuan emosional juga akan berpengaruh terhadap perkembangan rasa keagamaan anak, seperti dihinggapi rasa enggan untuk mengerjakan kelakuan-kelakuan keagamaan atau keengganan merubah dari sesuatu yang sebenarnya tidak diyakini (ragu) kepada yang tidak diragukan karena rasa solidaritas yang terlalu besar.

2.      Faktor luar (lingkungan)
Faktor luar yaitu beberapa kondisi dan situasi lingkungan yang tidak banyak memberikan kesempatan untuk berkembang, malah justru menganggap tidak perlu adanya perkembangan dari apa yang telah ada. Faktor luar antara lain tradisi agama atau pendidikan yang diterima. Kultur kemasyarakatan yang sudah dikuasai tradisi tertentu dan berjalan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, kadang-kadang terasa oleh sebagian orang sebagai suatu belenggu yang tidak pernah selesai. Kadang-kadang tradisi itu sendiri tidak ketemu dari mana asal-usul dan sebab musababnya, mulai kapan ada dan bagaimana ceritanya.[9]




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di dalam makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa rasa keagamaan yang terdapat dalam diri anak bersifat instinktif (fitri), sebagaimana dalam aspek-aspek psikis yang lainnya. Meskipun seorang anak terlahir dalam keadaan fitrah, peran orang tua sangat pengaruh dalam perkembangan agama pada anak. Orang tualah yang menentukan jenis pendidikan agama apa yang diberikan kepada anaknya. Bagi orang tua yang tidak memperdulikan agama namun mengharapkan anaknya akan memperoleh dasar keyakinan agama yang baik, hal itu tidak memungkinkan.

Selain ditentukan oleh peran orang tua, perkembangan agama pada anak juga sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman. Seorang anak yang tidak mendapat pendidikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung terhadap sikap negatif terhadap agama. Dengan demikian nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan seorang anak sebelum bersekolah, atau sebelum mereka remaja akan memberikan pengaruh yang positif dalam tabiat anak itu, sampai ia menjadi dewasa.

B.     Salam Penutup
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin disampaikan mengenai makalah ini, pintu saran dan kritik selalu terbuka dari kami.

Apabila ada atau terdapat kesalahan mohon dapat mema'afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari kata salah, khilaf, Alfa, dan lupa.

Billahi Taufik Walhidayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb




DAFTAR PUSTAKA


Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002)

Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama(Surabaya: Usaha Nasional, 1991)

Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996)

Robbert W. Crapps, Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan,(Yogyakarta: Kanisius, 1994)


[1]Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 69-70.
[2] Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002), hlm. 28-29.
[3] Prof. Dr. Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm 59.
[4]Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 75.
[5] Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 68.
[6] Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 69-71.
[7] Robbert W. Crapps, Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 22.
[8]Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 97-98.
[9] Drs. H.M. Hafi Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm.99

Tidak ada komentar:

Posting Komentar