Lomba Dai dalam Santrifest 2019 menyedot perhatian masyarakat - Jampang Media

Breaking

Minggu, 24 Maret 2019

Lomba Dai dalam Santrifest 2019 menyedot perhatian masyarakat

Penampilan peserta Dai Santrifest 2019
"Santri harus optimis karena santri bisa jadi apa saja, bisa jadi kiai, bisa jadi gubernur, bisa jadi menteri dan bisa menjadi wakil presiden," kata Ma'ruf Amin saat menyampaikan sambutan di hadapan ratusan santri Banten yang menghadiri lomba Da'i Santrifest 2019 di Hotel Le Dian Banten, Sabtu (23/3/2019).

Lomba Dai yang bertemakan "Dai Milleneal Sebagai Penjaga Ukhuwah Islamiyah dan Keutuhan Bangsa" tersebut dihadiri juri Ustad Ahmad Zubaidi, Ahmad Sobari, Budayawan dan Novelis Ayat ayat Cinta Habiburrahman dan Moderator Lutfi Sobahi.

Ma'ruf Amin menyampaikan bahwa akan banyak tradisi lama yang akan ditinggalkan dan diganti tradisi baru, seperti industri 4.0. "Makanya santri harus di depan mengawal tradisi yang masih bagus," tuturnya.

Ma'ruf juga mengajak santri untuk tetap optimistis, karena santri bisa menjadi apapun termasuk menjadi presiden seperti Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

Peserta lomba merupakan generasi milenial dari kawasan Serang Banten dan sekitarnya. Masing-masing menunjukkan penampilan yang baik, apik dan menarik, seperti : Muhamad Sodri, Siti Rohmatul, Rofik Rijal, Qomariah, Hamzah Arif, Iqbalus Salam, Opa Sarofatul Fadhilah, Ahmad Baidhowi, Nadiyatul Maziyah, Fatkhur Rajak, Rohan Syafaat, Mila Nuroniya dan lain sebagainya sehingga menyedot masyarakat untuk menyaksikannya.

Peserta Rofik Rijal menyampaikan di era milenial globalisasi ini memberikan banyak manfaat pada masyarakat namun banyak pula menimbulkan dampak negatif, diantaranya masuknya budaya luar ke masyarakat. Pemuda/pemudi yg harusnya jadi ujung tumbak dakwah agama justru lebih suka berfoya foya. Maju mundurnya NKRI ada di tangan kita. Maka kemajuan globalisasi ini hendaknya menjadi faktor pemicu kemajuan dan penguatan iman dan agama. Kita harus sampaikan kebenaran bukan menyebar hoaks.

Peserta Qomariah menyampaikan, globalisasi penentu masa depan apakah Islam akan menjadi terang benderang atau justru menjadi suram. Dengan globalisasi ini segala sesuatu dapat kita peroleh secara instans. Diantaranya informasi. Namun kemudahan tersebut sangat mungkin di dalamnya tercemar hoaks. Dan itu menjadi bahaya dan dapat mengancam budaya sendiri. Budaya luar juga mengancam diantaranya melalui fashion dan film. Dampaknya menyerang generasi muda seperti narkoba, kenakalan remaja, seks bebas, tawuran dan lain sebagainya. Kini saatnya generasi muda mampu mengambil kesempatan yang baik untuk bangkit. Agama juga memerintahkan mempelajari ilmu teknologi.

Peserta Iqbalus Salam menyampaikan, hoaks menyebabkan seseorang mudah mengkafirkan, menyalahkan, menyesatkan orang lain. Di lingkungan santri memiliki tradisi tabayyun. Ulama dan umaro idealnya bersatu, dengan demikian akan menjadikan Indonesia berkah. Menilai seseorang harus dari luar dan dalamnya.

Opa Sarofatul Fadhilah menyampaikan, bangga jadi santri, sebab santri tetap jaga pergaulan dan diajari hormat pada guru dan orang tua. Santri juga menjadi tonggak masa depan.

Ahmad Baidhowi menyampaikan, kita harus menghormati orang tua karena ridlo Allah bergantung pada ridlo orang tua. Juga wajib menghormati guru karena guru lah yang membentuk pengetahuan kita.

Peserta Fatkhur Rajak menyampaikan, langkah utama untuk meraih persatuan adalah dengan menjaga prinsip Ukhuwah Islamiyah. Dengan menjauhi hal-hal yang menyebabkan perpecahan. Kita semua bersaudara baik dari Aceh hingga Papua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar